EGO SEEKOR KEPITING

Posted: Januari 6, 2008 in Opini
Tag:,

kepitingManusia kadang seperti kepiting. Mereka tidak dapat maju karena terbelenggu oleh egonya sendiri. Cobalah perhatikan sejumlah kepiting dalam sebuah keranjang. Dapatkah mereka memanjat dinding naik ke atas, untuk meraih sukses atau membebaskan diri? Ternyata tidak. Bila ada seekor kepiting yang menunjukkan tanda-tanda akan berhasil, kepiting yang lain akan segera me-nariknya kembali ke dasar keranjang. Mereka sangat suka dengan yang disebut “senasib sepenanggungan”, dalam arti yang negatif. Mereka seolah-olah ber-sepakat: “Mari kita sama-sama menderita”.

 Di kota Pontianak, orang memancing kepiting dengan mempelajari serta memanfaatkan ego yang ada pada kepiting. Pernah dengar bagaimana caranya? Mereka menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke bambu itu. Seutas tali diikatkan ke batang bambu sementara pada ujung tali yang lain diikatkan batu. Mereka mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun menuju kepiting yang diincar. Mereka mengganggu kepiting itu dengan batu, menyentak dan menyentak agar kepiting itu marah, dan kalau berhasil kepiting itu menggigit tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga mereka dengan leluasa dapat mengangkat bambu dengan ujung tali berisi kepiting gemuk yang sedang marah. Mereka tinggal mengayun perlahan bambu itu agar ujung talinya menuju sebuah wajan besar berisi air mendidih karena di bawah wajan itu ada kompor dengan api yang sedang menyala. Mereka celupkan kepiting yang sedang murka itu ke dalam wajan, dan seketika kepiting melepaskan gigitannya dan tubuhnyapun berubah menjadi merah. Tak lama kemudian mereka bisa menikmati kepiting rebus yang sangat lezat. Kepiting-kepiting yang malang itu menjadi korban the crab hunters karena kemarahannya, karena kegeramannya atas gangguan yang dilakukan melalui sebatang bambu, seutas tali dan sebuah batu kecil. Kita sering sekali melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan, menghadapi berbagai masalah, kehilangan peluang, bahkan kehilangan segalanya karena MARAH. Karena egonya yang terpancing. Jadi kalau Anda menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, lakukan penundaan beberapa saat, tarik nafas panjang sembari menghitung mundur, turun dari dua puluh menuju sepuluh. Kalau perlu pergilah ke kamar mandi, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, agar murka Anda mereda dan Anda terlepas dari ancaman wajan panas yang bisa menghancurkan masa depan Anda. Ego yang mendidih ibarat air yang berlumpur, pikiran sangat jauh dari jernih. Untuk mendapatkan kembali kejernihannya, biarkan butiran halus lumpur itu mengendap bersama waktu dalam kesabaran dan kesadaran, secara alami.  Ego itu terkait dengan harapan yang bersifat possesive disertai rasa takut yang tersembunyi. Ego itu menyuarakan harapan seperti: “Belum tahu dia siapa aku”, “Jangan coba-coba berani mengganggu apalagi melecehkan aku”. Rasa takut membangkitkan keraguan seperti: “Kira-kira mau nggak mereka menghargaiku. Mau nggak mereka memperlakukan aku sebagai orang penting?”. Ego itu adalah “pikiran monyet” yang bersikap gelisah serta bertindak salah tingkah, dalam upaya melindungi harga diri tuannya sebagai “sosok pribadi yang bermartabat”. “Monyet edan” yang menggandul di pundak pikiran sesungguhnya dapat dikendalikan serta dipisahlan dengan mengamati secara seksama apa yang terjadi (inside yourself) ketika sedang marah, ketika benci terhadap sesuatu atau seseorang. Just give a great attention, focus on what’s happening, and free yourself from the filter of possessive expectation and fears. Feel the tranquility of the moment (Untuk mendapatkan hasil yang optimal tentu dibutuhkan latihan yang teratur & kontinyu).  

Dan, …… tiba-tiba saja kita tiba pada satu sudut pandang yang berbeda, yang dapat membebaskan diri kita dari berbagai belenggu persoalan. Bahwa berbagai masalah tidak semata-mata berada pada diri orang lain atau dunia luar. Bahwa berbagai persoalan terkait dengan respons yang kita berikan kepada orang lain atau dunia luar. Dan respons-respons ini sesungguhnya dapat (dilatih untuk) dikendalikan.  

N. Sutrisna Widjaya 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s